Selasa, 08 Februari 2011
Ikhwanul Muslimin
Selasa, 01 Februari 2011
Antara Gus Dur, Orang Kecewa, dan Tak Normal
Salah satu kebiasaan sebagian intelektual Indonesia adalah mendirikan organisasi, lembaga, dan sebagainya. Ketika baru didirikan atau dideklarasikan, banyak tokoh-tokoh yang terlibat, dan diliput media massa, sehingga dalam waktu singkat eksistensinya ‘diakui’ secara nasional. Namun tak berapa lama, suaranya sayup-sayup sampai hingga nyaris tak terdengar.
Gus Dur merupakan salah satu anak bangsa yang Indonesia banget, gitu loch. Terutama, bila dilihat dari kegemarannya mendeklarasikan organisasi. Belum lama ini, Rabu 3 Desember 2008 Gus Dur membentuk organisasi baru, yang ditujukan sebagai wadah menghimpun para pendukungnya yang merasa kecewa dengan PKB di bawah pimpinan Muhaimin Iskandar. Namanya, GATARA (Gerakan Kebangkitan Rakyat).
Gatara dideklarasikan Gus Dur bersama sejumlah tokoh politik di kantor Wahid Institute. Pada saat deklarasi, antara lain hadir sejumlah tokoh nasional seperti Akbar Tanjung, Rizal Ramli, Sutiyoso, Mochtar Pakpahan, dan sebagainya.
Bila Gus Dur mengatakan Gatara didirikan untuk menghimpun para pendukungnya yang merasa kecewa dengan PKB di bawah pimpinan Muhaimin Iskandar; maka Yenny putri Gus Dur mengatakan melalui Gatara diharapkan para ulama, kiai, habaib, kaum nahdliyin dan masyarakat umum mampu memberikan sumbangsih terhadap proses demokratisasi politik dan penegakan hukum di Indonesia.
Jadi, Gatara ini bila ditelisik dari temanya, ternyata soal demokrasi juga. Ini rasanya lembaga kedua Gus Dur yang bertema demokrasi. Sebelumnya, Gus Dur pernah punya Forum Demokrasi (Fordem) yang kini senyap setidaknya sejak Gus Dur jadi Presiden. Meski begitu, beberapa aktivis Fordem ada yang sempat menjadi petinggi negara, misalnya Bondan Gunawan, namun belakangan ia terlempar dari ring satu lingkar kekuasaan Gus Dur, sebelum Gus Dur lengser.
Di tahun 2005, Gus Dur ikut berkiprah pada sebuah organisasi yang digagas Anand Krishna. Organisasi itu bernama National Integration Movement, disingkat NIM yang berarti Gerakan Integrasi Nasional. Pada organisasi ini Gus Dur duduk sebagai Ketua Dewan Pembina, yang beranggotakan sejumlah nama diantaranya Siswono Yudohusodo dan Slamet Rahardjo. Mantan Pemimpin Redaksi Kompas, August Parengkuan, duduk sebagai anggota Kehormatan.
Sebagaimana bisa dilihat di www.nationalintegrationmevement.org, NIM didirikan pada tanggal 11 April 2005, di Tugu Proklamasi, Jakarta, sebagai respon atas adanya ancaman terhadap integrasi bangsa, terutama yang disebabkan oleh pertikaian atas nama agama dan etnis, di berbagai wilayah Indonesia. Pendiriannya diinspirasikan oleh tokoh spiritual lintas agama Anand Krishna.
Sebagaimana juga AKKBB yang berupaya menanamkan di benak kita akan adanya bahaya disintegrasi dan sebagainya, NIM juga mempunyai concern yang sama. Sejumlah isu yang potensial untuk diangkat oleh NIM meliputi: ancaman terhadap keutuhan wilayah RI, peraturan dan perundangan yang diskriminatif terhadap kelompok agama tertentu; kebijakan yang merugikan kelompok etnis dan agama tertentu; ancaman atau teror dari kelompok masyarakat tertentu kepada kelompok masyarakat lain; dan sebagainya.
Jangan lupa, Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dan Anand Krishna termasuk sosok yang namanya ikut mendukung petisi AKKBB yang antara lain dimuat oleh harian Kompas. Salah satu kegiatan NIM adalah menerbitkan berbagai petisi, seperti Petisi Untuk Menolak UU Pornogafi, Petisi Penghapusan Kolom Agama Pada KTP, PETISI untuk Pemerintah Indonesia untuk memperhatikan Pulau Bali, Petisi Pembuatan dan Pemberlakuan Undang-Undang Perlindungan Folklor dan Pengetahuan Tradisional, Petisi Pendidikan Harus Mengantar Kita pada Kebangkitan Indonesia, dan sebagainya.
Nampaknya, ada sekelompok orang yang konsisten menakut-nakuti kita akan adanya bahaya ideologis, akan adanya ancaman disintegrasi, akan adanya bahaya yang ditimbulkan oleh sekelompok orang yang hendak mengubah dasar negara.
Mereka menciptakan sebuah hantu jadi-jadian, yang harus dijadikan musuh bersama. Hantu jadi-jadian yang mereka maksud adalah sekelompok orang yang picik sikap keber-AGAMA-annya, yang suka kekerasan, yang suka memaksakan kehendak, dan sebagainya. Sekelompok orang itu tentu saja bukan Anand Krishna, bukan Gus Dur, bukan Azyumardi Azra, bukan Komaruddin Hidayat, bukan Ulil dan kelompok JIL-nya, bukan Amien Rais, bukan Syafi’i Ma’arif, bukan Jalaluddin Rahmat, bukan Gunawan Mohamad, bukan Amin Abdullah, bukan Moeslim Abdurrahman dan sebagainya
Sementara mereka menciptakan hantu menyeramkan tentang adanya bahaya Islam fundamentalis, bahaya Islam radikal yang hendak mengubah idelogi negara; pada saat bersamaan mereka telah menyusupkan paham yang tidak sekedar sekuler, tidak sekedar plural dan liberal, tetapi atheis dan komunis.
Buktinya, di masa ketika Gus Dur menjadi Presiden, ia menyatakan akan mencabut Tap MPRS No. XXV/l966 tentang larangan ajaran Marxis dan Leninis yang merupakan inti ajaran komunis. Padahal, di Indonesia, penganut komunis sejak sebelum kemerdekaan sudah sering melakukan pemberontakan. Pasca kemerdekaan, 1948, pengikut komunis melakukan pemberontakan di Madiun. Akibatnya, sejumlah pentolah komunis mati, lainnya kabur ke luar negeri, antara lain D.N. Aidit. Namun, di tahun 1950 Aidit kembali ke Indonesia karena Soekarno melakukan rehabilitasi terhadap mereka. Di tahun 1965, penganut komunis kembali melakukan pemberontakan berdarah.
Bila Soekarno pernah merehabilitasi penganut komunis yang pernah berontak di tahun 1948, Gus Dur semasa jadi presiden pernah bertatap muka dengan pelarian politik kasus PKI (komunisme) ketika jalan-jalan ke berbagai negara Eropa, dan di hadapan mereka Gus Dur menjanjikan bahwa mereka dapat kembali ke Indonesia. Untuk menunjukkan keseriusannya, Gus Dur menugaskan Yusril Ihza Mahendra yang ketika itu menjabat sebagai Menkumdang untuk menindak-lanjuti kebijakan Gus Dur terhadap para pelarian politik penganut komunis.
Sebagai presiden, Gus Dur menginginkan untuk menghapus semua undang-undang atau peraturan yang melarang dan membatasi aliran-ideologi seperti komunisme; bahkan ia juga hendak menghapus Departemen Agama, karena departemen ini menurut Gus Dur hanya menguntungkan golongan Islam dan merugikan golongan lainnya.
Gus Dur juga pernah mengusulkan untuk menghapus Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri yang mengatur penyebaran agama dan pendirian tempat ibadah, karena dianggap merugikan golongan Kristen. Selain itu, Gus Dur juga mengusulkan agar kurikulum pendidikan Agama di sekolah-sekolah harus diubah karena menyebabkan siswa menjadi penganut Islam yang fanatik terhadap agamanya.
Usulan Gus Dur berkenaan dengan kurikulum pendidikan agama, sesungguhnya sudah mulai dipraktekkan Harun Nasution sejak 1975-an. Hingga kini, diteruskan oleh generasi pelanjutnya seperti Azyumardi Azra dan Komaruddin Hidayat di UIN (IAIN). Dulu belum terlihat jelas identitas ideologis para pembelok arah IAIN/UIN itu. Barulah setelah lebih dari tiga dasawarsa terjadi kudeta ideologis di UIN/IAIN, mulai diketahui dengan lebih tegas identitas ideologis mereka, yaitu sekelompok orang yang menjajakan ilhadiyah alias neo komunisme.
Masih ada lagi. Semasa menjadi presiden, Gus Dur juga menghendaki agar UU Peradilan Agama yang mengarah pada penerapan syari’ah Islam harus dihapus. Begitu juga dengan UU Perkawinan yang substansinya lebih banyak menguntungkan golongan Islam, harus dihapus. Pada masa-masa itu Gus Dur juga pernah mengusulkan agar Masjid Istiqlal dikelola oleh pengurus yang multi agama, jangan hanya orang Islam.
Gus Dur dan kontes waria
Begitulah faktanya. Gus Dur (dan orang-orang sejenisnya) oleh corong-corong propagandis dan provokator, didengung-dengungkan sebagai tokoh Islam yang cendekia, humanis, plural, toleran, dan seabreg julukan berlebihan lainnya; untuk kemudian dihadapkan dengan sekelompok besar umat Islam yang konsisten dengan ajarannya, selanjutnya untuk diperbandingkan satu sama lain: yang seperti Gus Dur Islamnya baik, yang lainnya jelek, jumud, sempit, tidak toleran dan sebagainya.
Maka, jadilah Gus Dur semacam prototipe Islam yang baik. Konsekuensinya ia dijajakan ke mana-mana. Namanya tidak saja tercantum di dalam berbagai organisasi, namun kehadirannya juga diharapkan pada berbagai event yang tidak ada kaitannya dengan agama atau kecendekiawanan. Misalnya, pada event kontes waria. Di tahun 2006, pada ajang Kontes Waria yang berlangsung awal Agustus, Gus Dur tidak hanya memberikan dukungan moril tetapi juga hadir pada acara yang berlangsung di Diskotek Stardust, Menteng, Jakarta.
Kontes Waria 2006 itu, merupakan kontes yang ketiga kalinya diadakan di Indonesia sejak 2004 lalu. Pada tahun 2005, kontes tersebut mendapat tentangan keras dari FPI. Nah, untuk ‘melawan’ FPI, maka Gus Dur pun dihadirkan oleh para penyelenggara Kontes Waria. Pelu juga diingat, dukungan Kontes Waria tidak saja datang dari Gus Dur, tetapi juga dari Sutiyoso yang kala itu menjabat sebagai Gubernur DKI. Kini, Sutiyoso disebut-sebut akan menclaonkan diri menjadi Presiden RI pada musim pemilu 2009 esok.
Begitulah, Gus Dur diposisikan sebagai Islam ynag ‘baik” sedangkan FPI diposisikan sebagai Islam yang “tidak baik”. Maka, untuk menghalau Islam yang “tidak baik” tadi, perlu dihadirkan Islam yang “baik” ke ajang kontes waria yang menurut kacamata agama apapun juga pastilah merupakan sesuatu yang bertentangan.
Di Indonesia kontes waria yang dijaga ketat oleh kepolisian ini digrebek oleh FPI, lembaga tanpa badan hukum yang didirikan rakyat biasa yang punya misi melawan kemungkaran. Berbeda dengan di Indonesia, di negeri jiran Malaysia, kontes serupa justru digrebek oleh aparat berwenang.
Sebagaimana diberitakan Gatra.Com edisi Rabu, 30 Oktober 2002 dengan judul Malaysia Grebek Kontes Waria sejumlah petugas termasuk aparat kepolisian Malaysia menyerang kontes Ratu Paperdolls 2002 Senin malam di Muar, kota kecil di negara bagian Johor selatan. Tentu saja para waria itu lari pontang-panting dan sebagian dari mereka ada yang berusaha menghindari penangkapan dengan bersembunyi di dalam ruang rahasia di tempat itu. Menurut suratkabar setempat 80 dari 200 waria telah ditahan.
Padahal, boleh jadi kontes waria di Indonesia terinspirasi oleh kontes serupa di negeri jiran yang digrebek aparat berwenang di sana. Ironisnya, di Indonesia kontes waria selain mendapat penjagaan ketat aparat kepolisian, mendapat dukungan dari Gubernur DKI dan mantan Presiden RI, juga didukung oleh Ruhut Sitompul lawyer kenamaan. Padahal, menurut kacamata social, fenomena waria merupakan salah satu penyakit masyarakat (pathologi sosial). Di tempat lain, penyakit seperti itu cenderung diberantas, tetapi di Indonesia malah dibela-bela. Apakah ada orang sehat yang membela penyakit?
MUI telah memfatwakan tentang kedudukan waria.
Berikut ini kutipan fatwa MUI tentang kedudukan waria:
Mengingat:
Hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa laki-laki berperilaku dan berpenampilan seperti wanita (dengan sengaja), demikian juga sebaliknya, hukumnya adalah haram dan dilarang agama.
Hadits menegaskan;
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَعَنَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang berpenampilan perempuan dan perempuan yang berpenampilan laki-laki. (HR Al-Bukhari).
Atas dasar hal-hal tersebut di atas, maka dengan memohon taufiq dan hidayah kepada Allah SWT
Memutuskan
Memfatwakan:
Waria adalah laki-laki dan tidak dapat dipandang sebagai kelompok (jenis kelamin) tersendiri.
Segala perilaku waria yang menyimpang adalah haram dan harus diupayakan untuk dikembalikan pada kodrat semula.
Menghimbau kepada:
Departemen Kesehatan dan Departemen social RI untuk membimbing para waria agar menjadi orang yang normal, dengan menyertakan para psikolog.
Departemen Dalam Negeri RI dan instansi terkait lainnya untuk membubarkan organisasi waria.
Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan bila di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan pembetulan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di: Jakarta
Pada tanggal: 1 Nopember 1997
Dewan Pimpinan
Majelis Ulama Indonesia
Ketua Komisi Fatwa MUI Ketua Umum Sekretaris Umum
Prof. KH. Ibrahim Hosen KH. Hasan Basri Drs. HA. Nazri Adlani
Telah ada hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melaknat perilaku berlagaknya lelaki sebagai wanita dan sebaliknya wanita sebagai lelaki. Kemudian sudah ada fatwa MUI yang mengharamkannya, menyatakan penyimpangannya itu haram, agar Depertemen Kesehatan dan Departemen social mendandani mereka supaya jadi normal. Sedang Departemen Dalam Negeri agar membubarkan organisasi waria. Lha kok malahan ada orang yang mengaku sebagai tokoh dari Ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam justru mendukung kontes waria yang terlaknat itu. Apakah pantas di akherat kelak akan tetap mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Yang berpihak kepada kelompok tak normal itu secara akal otomatis adalah orang yang tidak normal pula. Tetapi di kalangan orang-orang yang tidak normal, siapa yang tidak normalnya itu dianggap paling tinggi maka dijadikan sebagai model pertama. Dalam kenyataannya, ada orang, karena ia merupakan sebuah prototype (model pertama) yang harus dipamerkan ke mana-mana, maka namanya pun tercantum di berbagai organisasi dan kehadirannya menjadi bumbu tersendiri pada setiap kegiatan, termasuk perayaan natal bersama. Orang itu sendiri tak kuat menahan gejolak mendirikan berbagai organisasi atau memenuhi berbagai undangan, meski harus dituntun-tuntun (karena maaf, tidak dapat melihat). Sehingga, bila diibaratkan dengan pohon, ia bagai tanaman dalam pot yang tidak pernah menjadi besar, tidak pernah bisa berbuah, dan pada gilirannya kekeringan karena sering berjemur di terik matahari. Meski sudah kering, tetap saja dijajakan dan dipamerkan oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan terhadapnya, dengan mengusung tema “pohon kering yang artistik”. (nahimunkar.com)
Senin, 07 Juni 2010
Kebangkrutan Pemimpin Arab Menghadapi Israel?
Jumat, 04 Juni 2010
Dagelan Penggerebegan Teroris
Seorang wartawan senior, Hanibal Wijayanta (ANTV) menuliskan berbagai kejanggalan dalam penyergapan tersangka teroris yang dilakukan oleh densus 88. Tulisan tersebut dimuat dalam facebooknya tertanggal 13 Mei 2010 dan banyak dikutip secara bebas oleh situs maupun milis lainnya. Berikut tulisan lengkap beliau!
Ada banyak kejanggalan dalam operasi penggerebegan teroris di Solo hari ini. Ada apa sebenarnya?
Beberapa hari terakhir masyarakat kembali dikejutkan oleh operasi penangkapan dan penembakan teroris. Pekan lalu, belasan orang ditangkap di kawasan Pejaten, yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari markas Badan Intelijen Negara (BIN). Rabu siang lalu (12/5) sekelompok orang ditangkap di Cikampek, Jawa Barat, dan menewaskan dua orang di antara mereka. Beberapa jam kemudian, tiga tersangka teroris juga diterjang timah panas polisi dan tewas saat turun dari taksi di keramaian jalan Sutoyo Siswomihardjo, kawasan Cililitan, Jakarta Selatan.
Lewat corong media massa, polisi mengatakan bahwa mereka adalah tersangka teroris. Awalnya polisi baru mengatakan bahwa mereka terlibat dalam kasus teroris Aceh yang ditangkap dan didor dua bulan lalu. Belakangan, polisi mengatakan bahwa mereka juga terlibat kasus bom Marriott dan bom Kedubes Australia. Bahkan kabarnya salah seorang tersangka yang ditembak polisi adalah Umar Patek, salah satu pelaku Bom Bali I, yang sempat diberitakan tewas di Filipina.
Hari ini, Kamis (13/5) polisi ternyata sudah langsung bergerak ke Solo, termasuk komandan lapangan Densus 88 Kombes Muhammad Syafei yang sampai kemarin sore masih berada di Cikampek. Sang Kombes juga sempat memberikan clue kepada tim liputan kami bahwa, "Akan ada gunung meletus di Solo." Di Solo polisi ternyata menangkap tiga orang tersangka, entah di mana ditangkapnya, kemudian menyerbu sebuah rumah bengkel. Di tempat inilah polisi menemukan sepucuk M-16, pistol, peluru, dan buku-buku jihad (!)... Hmmm... Sigap nian polisi kita.
Namun ada yang menarik dalam penggerebegan teroris di Solo kali ini. Sebab, sebelum penggerebegan itu, polisi sempat menggelar brieffing terlebih dahulu dan persiapan-persiapan seperlunya di sebuah rumah makan. Di tempat itu pula -di pinggir jalan- mereka baru memakai rompi anti peluru setelah melempar-lemparkannya sebentar di antara mereka, memasang sabuk, penutup kepala, senjata api dan persiapan-persiapan lain. Beberapa warga yang melintas sempat menonton mereka show of force, dan terkagum-kagum heran melihat semua persiapan itu. "Wah, iki Densus 88 yo, Mas, edan tenan...," kata seorang warga.
Acara persiapan pra penyerbuan yang sangat terbuka seperti ini tentu saja jarang terlihat pada penggerebegan sebelumnya. Pada penyerbuan-penyerbuan sebelumnya, biasanya polisi sudah memakai pakaian tempur lengkap dan masuk ke lokasi di malam hari atau pagi buta. Sementara pada acara persiapan tadi pagi, matahari sudah mulai hangat di tengkuk. Saat itu sebenarnya beberapa wartawan cetak dan elektronik sudah mulai berdatangan ke rumah makan itu. Sayang mereka tidak berani mengambil momentum bersejarah ini...
Nah, setelah semua anggota lapangan memakai peralatan rapi, mereka lalu masuk ke mobil dan langsung bergerak. Hanya bergerak sebentar tiba-tiba mobil-mobil Densus 88 itu berhenti. Para anggota lapangan pun bergerak mengepung sekitar lokasi dan kemudian memasuki rumah yang dipakai menjadi bengkel itu. Para wartawan yang mengikuti mereka sampai tergopoh-gopoh karena terkejut. Mereka tidak mengira rumah sasaran sedekat itu. Tahukah anda, berapa jaraknya dari rumah makan tadi? Hanya 200 meter, dan terlihat jelas dari restoran tadi!!
Maka drama penggerebegan yang tidak lucu itu pun terjadi. Para wartawan bisa mendekat ke TKP bahkan sampai ke pintu rumah bengkel tadi. Para anggota Densus 88 itu pun bisa diambil gambarnya dalam jarak dekat. Mereka sama-sekali tidak berusaha menghalangi atau melarang, mereka juga tidak mengusir para wartawan. Para petugas membiarkan para cameraman televisi mengambil gambar hingga di pintu rumah itu, dan bisa mengambil gambar ketika anggota densus 88 berada di salah satu ruangan.
Dalam rekaman para cameraman televisi, Lazuardi reporter/cameraman Metro TV dan Ecep S Yasa, dari TV-One tampak diberi privilege untuk mengambil gambar terlebih dahulu dari wartawan lain. Meskipun demikian mereka juga sempat disuruh keluar terlebih dahulu, "Nanti dulu-nanti dulu, belum siap," kata seorang anggota Densus 88. Para wartawan sempat bertanya-tanya, apanya yang belum siap. Namun ketika boleh masuk, para wartawan melihat bahwa barang bukti sudah tersusun rapi di lantai.
Yang sangat menarik, bagi wartawan yang sudah biasa meliput penangkapan teroris, tampak jelas dari bahasa tubuh mereka, bahwa para anggota Densus 88 itu tidak menunjukkan tanda-tanda stres yang menyebabkan adrenalin melonjak. Mereka tampak lebih santai dari pada ketika mereka menggerebeg tersangka teroris sebelumnya. Bahkan mereka menunjukkan kegembiraan yang janggal ketika saling mengacungkan jempol, tos dan sebagainya, setelah operasi dinyatakan berhasil.
Perilaku yang aneh juga tampak ketika para perwira Densus 88 termasuk komandan lapangan mereka, Kombes Muhammad Syafei datang ke rumah bengkel itu dan mau diambil gambarnya oleh para wartawan, bahkan dalam posisi close-up. Padahal selama ini dia dikenal paling alergi dengan kamera wartawan. Tak segan-segan ia menyuruh wartawan mematikan camera atau menghapus gambar yang ada dirinya.
Kejanggalan pun semakin lengkap ketika beberapa warga mengakui bahwa sebenarnya sehari sebelumnya rumah bengkel itu sudah didatangi sejumlah orang bertampang tegap, yang menurut warga adalah polisi.... "Ya mirip mereka-mereka itu, mas...," kata mereka.
Lalu, apa artinya semua ini?
Source : Hanibal Facebook
Kamis, 01 April 2010
Sejarah kelam April Mop
Maret akan segera usai. Bulan April menjelang. Ada suatu kebiasaan jahiliah yang patut kita waspadai bersama sebagai seorang Muslim; 1 April sebagai hari April Mop. April Mop sendiri adalah hari di mana orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Tapi tahukah Anda apakah April Mop itu sebenarnya?
Sejarah April Mop
Sebenarnya, April Mop adalah sebuah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.
Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop—yang hanya berlaku pada tanggal 1 April—adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orangtua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan.
Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine's Day, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat perkotaan kita. Terutama di kalangan anak muda. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, masyarakat dengan mudah meniru kebudayaan Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya.
Perayaan April Mop berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan? April Mop, atau The April's Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H.
Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah barat yang berupa pegunungan. Islam telah menerangi Spanyol.
Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur'an, namun bertingkah-laku berdasarkan Al-Qur'an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.
Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal. Maka dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol.
Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al Qur'an. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.
Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan salib. Penyerangan oleh pasukan salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.
Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara salib terus mengejar mereka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara salib mengetahui bahwa banyak muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka.
Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Namun beberapa dari orang Muslim diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun segera bersiap untuk meninggalkan Granada dan berlayar meninggalkan Spanyol.
Keesokan harinya, ribuan penduduk muslim Granada keluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa seluruh barang-barang keperluan, beriringan berjalan menuju ke pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan salib, memilih bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.
Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan, hanya bisa terpana ketika tentara salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara salib telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.
Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara salib segera membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.
Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April's Fool Day). Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.
Bagi umat Islam, April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya se-iman disembelih dan dibantai oleh tentara salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas juga ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam. (eramuslim.com)
Minggu, 15 November 2009
Alfaraby of Mine
Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi (870-950, Bahasa Persia: محمد فارابی ) atau Abū Nasir al-Fārābi (dalam beberapa sumber ia dikenal sebagai Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzalagh al-Farabi), juga dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir adalah seorang filsuf Islam yang menjadi salah satu ilmuwan dan filsuf terbaik di zamannya. Ia berasal dari Farab, Kazakhstan. Sampai umur 50, ia tetap tinggal di Kazakhstan. Tetapi kemudian ia pergi ke Baghdad untuk menuntut ilmu di sana selama 20 tahun. Lalu ia pergi ke Alepo (Halib), Suriah untuk mengabdi kepada sang raja di sana.
Al-Farabi adalah seorang komentator filsafat Yunani yang sangat ulung di dunia Islam. Meskipun kemungkinan besar ia tidak bisa berbahasa Yunani, ia mengenal para filsuf Yunani; Plato, Aristoteles dan Plotinus dengan baik. Kontribusinya terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan, bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai buku tentang sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik, Kitab al-Musiqa. Ia dapat memainkan dan telah menciptakan bebagai alat musik.
Al-Farabi muda belajar ilmu-ilmu islam dan musik di Bukhara. Setelah mendapat pendidikan awal, Al_farabi belajar logika kepada orang Kristen Nestorian yang berbahasa Suryani, yaitu Yuhanna ibn Hailan. Pada masa kekhalifahan Al-Muta'did (892-902M), Al-farabi dan Yhanna ibn Hailan pergi ke Baghdad dan Al-farabi unggul dalam ilmu logika. Al-Farabi selanjutnya banyak memberi sumbangsihnya dalam penempaan filsafat baru dalam bahasa Arab. Pada kekahlifahan Al-Muktafi (902-908M) dan awal kekhalifahan Al-Muqtadir (908-932M) Al-farabi dan Ibn Hailan meninggalkan Baghdad menuju Harran. Dari Baghdad Al-Farabi pergi ke Konstantinopel dan tinggal di sana selama dealapan tahun serta mempelajari seluruh silabus filsafat.
Al-Farabi dikenal sebagai "guru kedua" setelah Aristoteles. Dia adalah filosof islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama)yang membahas tetang pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan antara rezim yang paling baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah islam. Filsafat politik Al-Farabi, khususnya gagasannya mengenai penguasa kota utama mencerminkan rasionalisasi ajaran Imamah dalam Syi'ah.
My Avyrrouz
Abu Ya‘la al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd (1126-1198), atau yang lebih terkenal dengan sebutan Ibn Rusyd atau Averroes, adalah filosof Muslim Barat terbesar di abad pertengahan. Dia adalah pendiri pikiran merdeka sehingga memiliki pengaruh yang sangat tinggi di Eropa. Michael Angelo meletakkan patung khayalinya di atas atap gereja Syktien di Vatikan karena ia dipandang sebagai filosof free thinker. Dante dalam Divine Comedia-nya menyebutnya “Sang Komentator” karena dia dianggap sebagai komentator terbesar atas karya-karya Aristoteles.
Secara resmi, Ibn Rusyd memang diminta oleh Amir Abu Ya‘la Ya’qub Yusuf untuk menulis komentar atas berbagai karya Aristoteles, di mana untuk setiap buku dia membuat tiga kategori komentar: ringkasan (jami’), komentar singkat (talkhis) dan komentar detail (sharh atau tafsir). Yang terakhir disiapkan untuk mahasiswa tingkat tinggi. Akan tetapi, untuk jangka waktu yang sangat lama, di dunia Muslim, Ibn Rusyd tidak dikenal karena komentar-komentarnya terhadap karya-karya Aristoteles, tapi karena Tahafut al-Tahafut-nya yang ditulisnya sebagai bantahan terhadap terhadap buku al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah. Komentar-komentarnya banyak berada di dunia Yahudi dan Kristen sehingga kebanyakan komentar-komentarnya tidak lagi ditemukan dalam bahasa Arab, tapi sudah dalam bentuk terjemahan bahasa Hebrew atau Latin.
Memang, Ibn Rusyd merupakang komentator besar karya-karya Aristoteles, namun perhatian intelektualnya yang vital dalam konteks pemikiran filsafat Islam diabaikan, kita telah berbuat tidak adil terhadapnya. Sekalipun bersikap sebaliknya juga sama tidak adilnya. Akan tetapi bagaimanapun juga, untuk memperoleh suatu pemahaman yang benar tentang pemikiran filosofis dan teologis Ibn Rusyd, sumber yang paling penting tentu saja Tahafut al-Tahafut.
Ia lahir di kota Cordova, Ibu Kota Andalusia.Kakeknya adalah seorang ahli fiqh dan ilmu hukum terkenal. Di samping menjabat sebagai imam besar di Masjid Jami’ Cordova, ia juga diangkat menjadi hakim agungn (qadi al-jama’ah). Setelah meninggal, jabatan hakim agung ini diteruskan oleh puteranya, ayah Ibn Rusyd.
Tampak di sini bahwa Ibn Rusyd terlahir dari keluarga ahli-ahli fiqh dan hakim-hakim. Tidak mengherankan jika salah satu karyanya yang sangat terkenal, Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtasid, merupakan karyanya dalam bidang fiqh. Buku ini merupakan suatu studi perbandingan hukum Islam, di mana di dalamnya diuraikan pendapat Ibn Rusyd dengan mengemukakan pendapat-pendapat imam-imam fiqh.
Dia juga sebagai seorang dokter dan astronomer. Tapi, posisi ini kurang terkenal dibanding dengan reputasinya sebagai filosof. Dia dianggap sebagai salah satu dokter terbesar di zamannya. Menurut Sarton (G. Sarton, “Introduction of the History of Science, vol. II (Baltimore, 1931) dia adalah orang pertama yang menerangkan fungsi retina dan orang pertama yang menjelaskan bahwa serangan cacar pertama akan membuat kekebalan berikutnya pada orang yang bersangkutan.
Sebagai seorang penulis masalah obat-obatan, dia menyusun satu ensiklopedia yang berjudul Kitab al-Kulliyat fi al-Tibb. Ensiklopedi tersebut terdiri dari tujuh buku yang berhubungan dengan anatomi, fisiologi, patologi umum, diagnosis, materia medica, kesehatan dan terapi umum. Ensiklopedi ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin yang kemudian menjadi tex-book di berbagai universitas Kristen. Dia juga menulis komentar tentang puisi medis Ibn Sina, Arjuzah fi al-Tibb. Sebagai penulis masalah astronomi, dia menyiapkan ringkasan Almagest-nya Ptolemy dan juga menyusun satu karya tentang gerakan benda-benda langit dengan judul Kitab fi al-Harakah al-Aflak.
Filsafat Ibn Rusyd merepresentasikan titik kulminasi pemikiran Muslim dalam sebuah arah yang sangat esensial, yaitu memahami Aristoteles. Mulai al-Kindi, itu merupakan upaya dari seluruh filosof Muslim untuk memahami sistem pemikiran Aristoles, tapi kebanyakan di antara mereka tergelincir ke dalam jebakan Neoplatonisme. Para filosof Muslim tersebut mengira berbagai karya para filosof Neoplatonik sebagai karya Aristoles. Di masa Ibn Rusyd, banyak karya Aristoteles yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan tulisan-tulisan Pseudo-Aristotelian telah dikenali. Perbedaan utama antara Ibn sina dengan Ibn Rusyd adalah bahwa yang terakhir lebih memiliki pemahaman yang jelas dan luas tentang Aristoteles.
Arsitoteles, bagi Ibn Rusyd, adalah pemikir yang sangat besar, filosof terbesar yang pernah lahir, yang sama sekali tidak memiliki kesalahan dalam pikiran-pikirannya. Temuan-temuan baru dalam filsafat dan ilmu pengetahuan tidak ada perubahan yang signifikan dan substansial dari apa yang telah dielaborasi oleh Aristoteles. Tentu saja bahwa penilaian terhadap Aristoteles ini bisa jadi salah dalam hal posisinya dalam sejarah pemikiran manusia, tapi ketika Aristoteles bisa dipahami secara baik, sistemnya akan berkaitan dengan pengetahuan tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia.
Ibn Rusyd sangat mengagumi logika Aristoteles. Ia menyatakan, “Tanpanya, orang tidak bisa bahagia dan sungguh kasihan bahwa Plato dan Socrates telah menyia-nyiakannya”. (Saeed Shaikh, Studies in Muslim Philosophy (Delhi: Adam Publishers & Distributors, 1994: 171-172). Karena penghormatannya yang sangat tinggi terhadap Aristoteles, Ibn Rusyd harus membayar sangat mahal. Dia diserang oleh kaum ortodoks karena usahanya untuk menjajarkan ajaran Aristoteles dengan Islam. Para teolog merasa bahwa Ibn Rusyd, dalam rangka untuk merekonsiliasi dogma Islam dengan filsafat Aristoteles, telah menodai ajaran Islam. Mereka sangat murka terhadap Ibn Rusyd dan menuduhnya telah murtad.
Salah satu akibat dari serangan para teolog terhadap doktrin-doktrin filsafat Ibn Rusyd adalah pada tahun 1194-1195, Amir Abu Ya‘la Yusuf Ya’qub al-Mansur, di Sevila, menyuruh untuk membakar semua tulisan Ibn Rusyd kecuali beberapa kita yang berisi tentang pengobatan, aritmatika dan astronomi.
Tuduhan yang paling keji justru datang dari Eropa-Kristen. Ernest Renan, sebagaimana yang dikutip Ahmad, menyatakan bahwa dunia Kristen menuduh Ibn Rusyd sebagai gembong ateis yang paling besar, musuh agama dan pembenci nabi-nabi suci. Dituduhkan bahwa ia pernah mengatakan bahwa dunia telah dirusak oleh tiga dajal: Yahudi, Kristen dan Islam. Ketiga dajal tersebut adalah Musa yang membawa agama kanak-kanak, Isa yang membawa agama tidak rasional, dan Muhammad yang membawa agama babi. Ajarannya tidak boleh dipelajari dan buku-bukunya harus dimusnahkan. Para pengikutnya dikejar-kejar, bahkan ada yang dibakar.
Kejadian ini sebetulnya murni faktor politik. Selama masa Ibn Rusyd, kondisi politik di dunia Islam mengalami penurunan. Ketika berperang melawan Kristen, al-Mansur sangat membutuhkan bantuan para teolog dan ahli fiqh ortodoks. Perlu juga dicatat bahwa Amir al-Mansur ketika di Sevila tidak hanya menyuruh membakar buku-buku Ibn Rusyd, tapi juga menuduhnya telah murtad dan membuangnya ke Lucena, dekat Cordova. Tapi ketika sang Amir kembali ke Maroko pada tahun, dia membebaskan Ibn Rusyd dari hukuman buang dan mengundangnya ke istana dengan penuh penghormatan pada tahun 1197. Perubahan sikap Amir ini dapat dijelaskan bahwa penduduk Spanyol lebih ortodoks daripada penduduk Berber.
Tapi, setahun kemudian, ia meninggal dunia. Tepatnya pada tanggal 10 desember 1198 di kota Marakish, Ibu Kota Maroko. Setahun kemudian sang Khalifah juga meninggal dunia.
Doktrin utama filsafat Ibn Rusyd yang membuatnya dicap sebagai murtad berkaitan dengan keabadian dunia, sifat pengetahuan Tuhan dan kekekalan jiwa manusia dan kebangkitannya. Membaca sekilas tentang Ibn Rusyd memang bisa memberi kesan bahwa dia murtad dalam hubungannya dengan masalah-masalah tersebut, tapi penelaahan yang serius akan membuat orang sadar bahwa dia sama sekali tidak menolak ajaran Islam. Dia hanya menginterpretasikannya dan menjelaskannya dengan caranya sehingga bisa sesuai dengan filsafat.
Terhadap doktrin keabadian dunia, dia tidak menolak prinsi penciptaan (creation), tapi hanya menawarkan satu penjelasan yang berbeda dari penjelasan para teolog. Ibn Rusyd memang mengakui bahwa dunia itu abadi, tapi pada saat yang sama membuat pembedaan yang sangat penting antara keabadian Tuhan dengan keabadian dunia. Ada dua macam keabadian: keabadian dengan sebab dan keabadian tanpa sebab. Dunia bersifat abadi karena adanya satu agen kreatif yang membuatnya abadi. Sementara, Tuhan abadi tanpa sebab. Lebih dulunya Tuhan atas manusia tidak terkait dengan waktu. Keberadaan Tuhan tidak ada kaitannya dengan waktu karena Dia ada dalam keabadian yang tak bisa dihitung dengan skala waktu. Lebih dulunya Tuhan atas dunia ada dalam keberadaan-Nya sebagai sebab yang darinya muncul semua keabadian.
Bagi Ibn Rusyd, tidak ada creatio ex nihilio, tapi penciptaan adalah proses perubahan dari waktu ke waktu. Menurut pandangan ini, kekuatan kreatif terus-menerus bekerja dalam dunia, menggerakannya dan menjaganya. Adalah mudah untuk menyatukan pandangan ini dengan konsep evolusi.
Sabtu, 27 Juni 2009
Kisah perselingkuhanku (mudah-mudahan ditiru)
Self storySaat pertama kali saya dikenalkan dengan Lina. Waktu itu saya hanya menganggap Lina hanya sebagai obyek keisengan dan petualangan saya untuk hal-hal baru. saya memang sangat suka dengan hal-hal baru, terlebih hal itu memicu adrenalin dan hormon-hormon yang lain. Bukan ingin dianggap sebagai pria sejatinya gudang garam ataupun marlboro, saya lebih suka disebut flamboyan. Bukan flamboyan yang berarti suka memikat hati wanita, tapi cuma karena suka lagu flamboyannya Bimbo.
Jangan terkesima kalau Windy (isteri pertama saya) 'mengijinkan' saya untuk berselingkuh dengan Lina. Siang saya bergaul dan berkumpul dengan Windy, malamnya full time dengan Lina, pembagian waktu yang tidak terasa adil.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disana tertulis jelas bahwa selingkuh adalah : tidak berterus terang, tidak jujur, suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri, curang, serong. Tapi saya tidak seperti itu kawan. Selingkuh yang terjadi pada saya belum pernah didefinisikan dalam kamus besar manapun. Saya berterus terang pada isteri pertama saya, saya jujur, saya tidak menyembunyikan apapun, saya cuma membagi cinta saya.
Satu setengah tahun sudah saya menduakan pasangan hidupku. Walaupun saya dan Lina menjalin hubungan dengan diam-diam (tidak mendeklarasikan diri), tapi dasar lelaki flamboyan yang suka menceritakan petualangan-petualangannya
Tidak ada adu mulut, atau adu otot, apalagi sampai bau darah (mengutip tulisan Vinondini: Nyi Vinon) dalam perselingkuhan ini. Semakin lama saya semakin sayang dan cinta terhadap Lina, perhatian saya sedikit demi sedikit beralih. Di dunia selalu ada dua pasang kalimat, benci dan cinta, imbasnya saya semakin membenci Windy yang materialis, penyakitan, dan segudang kejelekan lainnya.
Saya merasakan banyak kelebihan-kelebihan Lina dibandingkan dengan Windy. Lina jelas seksi, gesit, lincah dan semua yang diidam-idamkan seorang pria (sejati?). Windy semakin tidak seksi, lamban, dan tidak cukup memuaskan seorang pria flamboyan.
Akhir 2008
Saya berniat untuk menceraikan Windy. Cukup banyak tantangan yang akan dihadapi. Mungkin bagi sebagian pria yang berselingkuh, dan kemudian menikahi selingkuhannya, lebih baik mempertahankan dua-duanya daripada memilih salah satu.
Tapi saya bukan bagian dari itu. saya lebih memilih satu, dan bukan satu untuk semua, tapi satu untuk satu awalnya, satu untuk semua akhirnya. (tag kalau bingung)
Jangan tunggu kulit menjadi lebih putih, atau rambut menjadi lebih lurus kalau mau berselingkuh atau berpoligami. (catatan untuk temanku)
Pria sejati yang didefinisikan gudang garam - yang menurut saya hanya sedikit orang - jangan dijadikan acuan. Pria sejati adalah pria yang mempunyai obsesi atau keinginan dan kemudian mencoba untuk meraihnya, jangan cuma dijadikan angan-angan. Kalau punya obsesi selingkuh, selingkuhlah. Rencananakan apa yang akan kamu lakukan, dan lakukan apa yang kamu rencanakan. Kalau tidak tahu apa rencana hidupmu, rencanakanlah untuk mati.
12 Mei 2009
Akhirnya saya resmi bercerai dengan Windy dan hari itu juga saya resmi menikahi Lina.
Tantangan-tantangan (resiko-resiko) itu akhirnya ada benarnya juga. Saya sedikit demi sedikit dijauhi sebagian teman-teman, dan kemudian ditinggalkan. Tapi saya juga mendapat teman-teman baru.
Pria sejati adalah pria yang berani mengambil resiko akan apa yang telah dilakukannya, dan saya terima resiko itu.
Saya tinggalkan anak-anak hasil pernikahanku dengan Windy, dan saya pelihara semua anak-anak yang dibawa oleh Lina.
Jangan berbelas kasihan pada saya, karena saya menikmati itu semua. Saya semakin sayang terhadap Lina dan anak-anaknya. Tidak pernah terbersit satu pikiranpun untuk kembali pada Windy.
Kelak, semua orang yang sadar akan kelelakiannya (kewanitaannya), pasti akan meniru jejakku. Saya yakin seratus persen, 90% pasangan di Asia, khususnya Negara Dunia Ketiga, mempunyai pasangan suami atau isteri yang sudah tidak orisinil lagi. Sangat manusiawi kalau setelah membaca ini Anda sadar bahwa Anda yang mempunyai isteri atau suami yang sudah tidak orisinil lagi, perlu mencicipi bahkan perlu menikahi 'sesuatu' yang sangat orisinil. Kalau bahasa saya terlalu bertele-tele, saya sederhanakan menjadi : "Sebagai laki-laki saya mendambakan seorang gadis yang masih perawan." (orisinil,red.).
Saya tidak perlu mendapatkan piagam atau pulitzer apapun untuk mengajarkan hal yang sangat kontra di masyarakat kita.
Saya merasa takjub, mempunyai pasangan yang sudah tidak perawan atau perjaka dianggap lumrah, dan saya menganjurkan sebaliknya dianggap suatu hil yang mustahal.
Satu lagi, walaupun cuma pria yang selalu saya sebut dalam catatan ini, wanitapun saya anjurkan untuk meniru jejak saya. Mendirikan sebuah biro perselingkuhan atau poligami resmi belum terpikirkan oleh saya. Kalau Anda bimbang atau ragu, jangan segan-segan untuk menghubungi saya, saya akan memberikan tips-tips bagaimana cara berselingkuh yang aman, dan kemudian menceraikan isteri pertama Anda.
(Hidden words: Lina - Linux, Windy - Windows, tidak orisinil - bajakan, pasangan - perangkat lunak)
Senin, 22 Juni 2009
Waktuku yang semakin berkurang

Seorang teman berkata, “Saya ingin sekali menulis, tapi saya tidak punya waktu. Saya harus bekerja di siang hari dan harus mengurus anak sebelum dan sepulang kerja. Bagaimana caranya?” Apa jawaban saya? “Memang, siapa yang punya waktu?”
Saya menjawab dengan sebuah pertanyaan, siapa yang punya waktu? Jawabannya adalah semua orang. Semua orang punya waktu. Kita sama-sama memiliki waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Coba siapa yang hanya punya waktu 20 jam sehari? Atau hanya 5 hari dalam seminggu?
Yang membedakan setiap orang, bukan jumlah waktu yang dimiliki, karena semua orang memiliki waktu yang sama. Yang membedakan adalah keputusan setiap orang bagaimana menggunakan waktunya. Saya punya waktu 24 jam, untuk apa saja yang memanfaatkan waktu saya? Anda juga punya waktu 24 jam, untuk apa saja waktu yang Anda punya?
Jujur, sering kali jawaban saya bukan yang mereka (yang merasa tidak punya waktu) harapkan. Saya sendiri tidak tahu jawaban apa yang mereka inginkan. Saya bukannya tidak berempati terhadap orang yang sibuk dengan kewajibannya. Tetapi, kesibukan memang tidak pernah habis, dan semua itu adalah keputusan Anda. Anda mau menggunakan waktu Anda untuk apa.
Toni Morrison, seorang ibu tunggal yang harus mengurus 2 anak dan bekerja untuk menghidupi kedua anak-anaknya memenangkan penghargaan Pulitzer dan hadiah nobel atas tulisannya. Saat ditanya, bagaimana bisa menulis di tengah kesibukannya, dia menjawab:
“Menulis di sela-sela waktu.”
Mungkin ada yang membantah, “Saya tidak punya sela-sela waktu!”
Sekali lagi, terserah Anda. Apakah Anda mau memiliki “sela-sela waktu” atau tidak, semuanya pilihan dan keputusan Anda.
“Tapi, banyak yang harus saya lakukan!” Siapa yang tidak? Semua orang memiliki tugas yang harus dilakukan. Hanya pemalas yang tidak memiliki kewajiban. Hanya pemalas yang banyak memiliki waktu luang. Semua orang, yang sadar akan kewajiban, akan selalu sibuk karena banyak yang harus dilakukan. Hanya saja, apa yang harus Anda lakukan juga ada pilihan Anda.
“Tapi…” Ssst, akan ada banyak alasan yang mengatakan Anda tidak punya waktu. Saya tahu. Mengapa tidak membuat alasan agar Anda bisa menyisihkan waktu? Jika Anda bertahan pada alasan tidak punya waktu, maka Anda akan terus tidak punya waktu. Jika Anda membuat alasan untuk mengambil keputusan menggunakan sebagian waktu untuk hal tertentu, maka Anda pun akan punya waktu.
Selasa, 17 Maret 2009
Bersatunya Negeri-negeri Islam, Wajib!
Kaum muslimin saat itu memiliki hanya satu pemimpin (Khalifah), memiliki satu sistem dan hukum, yaitu sistem dan hukum Islam, mempunyai satu wilayah yang amat luas yaitu Daulah Khilafah Islamiyah, memiliki kekuasaan politik dan militer yang siap menjaga penerapan sistem dan hukum Islam, yang siaga memelihara kesatuan wilayah Islam yang saat itu memanjang dari wilayah Maroko hingga Merauke melindungi jiwa, harta dan kehormatan kaum muslimin dimana saja mereka berada, menghancurkan kebathilan dan kekufuran yang diemban oleh musuh-musuh Islam, merendahkan kemusyrikan dan kekafiran, meninggikan Islam dan memuliakan kaum muslimin.
Pada masa Khilafah Islamiyah Utsmani itulah Kesultanan Islam Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo bergabung dalam naungan Daulah yang satu. Pada zaman itu pula wilayah Papua berada di bawah kekuasaan Kesultanan Islam Tidore. Artinya daerah yang ada di Kepulauan Maluku maupun Papua adalah negeri-negeri Islam yang bergabung dengan kekuasaan Islam tanpa peperangan hingga tanahnya dikelompokkan menjadi tanah أ¢â‚¬?usyriyah (Ardlu al Usyriyah). Sama dengan wilayah Maluku dan Papua, juga daerah-daerah di Aceh, Minangkabau, Riau, Malaka (Malaysia), Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Lombok dsb. Semua itu tergabung dalam tanah usyriyah, karena penduduknya pada masa dahulu memeluk Islam tanpa peperangan/kekerasan dan bergabung dengan Kesultanan Islam lainnya, seperti Kesultanan Islam Pasai, Malaka, Banten, Demak, Gowa dll, hingga datang kaum Imperialis dari Eropa seperti Portugal, Spanyol, Inggirs, Belanda ke negeri-negeri Islam di kawasan Asia Tenggara.
Saat itu kaum muslimin amat memahami pentingnya kesatuan wilayah Islam, sebab Rasulullah saw telah melarang seorang muslim untuk melepaskan diri dari Jamaah kaum muslimin (Daulah Khilafah slamiyah), sebagaimana hadits yang diriwayatkan melalui Arfajah:
“Siapa saja yang datang kepada kamu sekalian sedangkan urusan kalian berada di tangan seseorang (Khalifah) kemudian dia hendak memecah belah kesatuan jamaah (Daulah Khilafah Islamiyah) kalian, maka bunuhlah dia.” (HR. Muslim no. 3443).
Hadits ini melarang seorang muslim untuk melepaskan keterikatannya dari Khilafah Islamiyah, sekaligus memerintahkan kepada Khalifah untuk memberi hukuman yang amat keras, yaitu dibunuh (apabila tidak bertobat dan kembali bersama Jamaah kaum muslimin).
Perpecahan Wilayah Bukan Ajaran Islam
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda:
“Jika dibai’at dua orang khalifah, maka bunuhlah yang kedua“.
Secara manthuq, hadits itu melarang adanya lebih dari satu kekuasaan yang memerintah kaum muslimin. Dan mafhum hadits itu adalah tidak boleh adanya lebih dari satu negara bagi kaum muslimin. Atas dasar itu, negeri-negeri Islam yang berada di bawah satu negara wajib tetap berada dalam satu kekuasaan itu, yakni menyatu menjadi satu negeri.
Dengan demikian, pemisahan negeri kaum muslimin, sekalipun mayoritas penghuni negeri itu adalah orang-orang non muslim, tidak bisa dibenarkan karena itu bukanlah ajaran Islam. Lebih dari itu, setiap upaya memisahkan negeri Islam yang satu dengan yang lain adalah rekayasa imperialis Barat sebagaimana yang terjadi di berbagai negeri Islam. Setelah mengalahkan Khilafah Utsmaniyah, Barat mencaplok negeri-negeri kaum muslimin. Kemudian mereka membuat peta baru, membagi negeri-negeri Islam menjadi dunia Islam dan Dunia Arab. Dunia Arab yang kurang lebih seluas Indonesia mereka pecah belah menjadi lebih dari 23 negara. Duna Islam mereka pecah belah pula. India menjadi India dan Pakistan, lalu Pakistan menjadi Pakistan dan Bangladesh. Tanah Jawa Melayu mereka pecah menjadi Indonesia dan Malaysia, lalu Malaysia menjadi Malaysia dan Singapura. Dan kini Indonesia siap mereka buat menjadi berkeping-keping. Setelah?آ Timor-Timur mereka pisahkan. Kini mereka melirik Papua dan Aceh. Berkaitan dengan pemisahan wilayah yang banyak orang Nasraninya, kita tentu tidak lupa bagaimana mereka memprovokasi wilayah Balkan agar terlepas dari Khilafah Utsmaniyah pada akhir abad 19 dan dengan rekayasa busuk memecah wilayah Syam menjadi propinsi Siria dan Lebanon. Sejak itu Lebanon dikuasai oleh orang-orang kafir (lihat Shabir Ahmad dan Abid Karim, Akar Nasionalisme di Dunia Islam).
Dari dulu hingga kini kita tahu bahwa yang dicari oleh para penjajah Barat adalah kekayaan. Terkenal slogan imperialis, Gospel Gold Glory. Maka, apakah kaum muslimin saat ini masih juga dapat ditipu oleh rekayasa mereka menguasai bumi kaya Irian? Selama ini mereka sudah mengeruk tembaga, perak dan emas di lokasi tambang PT. Freeport, Timika. Mungkin mereka ingin lebih save dalam mengeksploitir bumi kaya itu? Tentulah mereka sudah meneliti berbagai kekayaan lain (di luar lokasi Freeport) yang akan lebih susah kalau masih tetap bersatu dengan Indonesia?
Ya, demokratisasi yang mereka pompakan di negeri ini tak lain dan tak bukan adalah demi kepentingan mereka yang kapitalistik. Marilah kita perhatikan ucapan salah seorang penasehat keamanan nasional Bill Clinton dalam sebuah pidatonya, 21 September 1993: “Kita harus menyebarkan Demokrasi dan ekonomi pasar bebas, karena hal ini akan dapat menjaga kepentingan-kepentingan kita, memelihara keamanan kita, dan sekaligus mendemonstrasikan nilai-nilai anutan kita, nilai-nilai Amerika yang luhur.”
Dominasi dan kekuatan ekonomi serta perdagangan AS mampu mengguncang dan menghancurkan ekonomi maupun perdagangan suatu negeri atau bahkan suatu kawasan tertentu. Melalui IMF, Bank Dunia dan lembaga internasional lainnya, AS begitu juga negara-negara Barat lainnya mengeruk kekayaan negeri-negeri miskin yang mayoritasnya terdiri dari negeri-negeri Islam. Dengan dalih Demokratisasi, Globalisasi, Pasar Bebas, Transparansi, HAM, dan Pluralisme, mereka menebar racun yang mengakibatkan instablitas politik di banyak negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia.
Khatimah
Berdasarkan hal ini, secara syar’i kaum muslimin wajib mencegah upaya negara-negara kapitalis Barat yang kafir dalam merampas kekayaan alam kaum muslimin serta memecah-belah wilayah Islam menjadi keratankeratan kecil yang tak berdaya, dengan dalih HAM dan demokratisasi seperti yang sudah mereka lakukan atas Timtim.
Dan kaum muslimin tidak akan pernah mampu menghadapi penghinaan dan penindasan ini kecuali dengan berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam, dengan berdirinya negara Khilafah Islamiyah.
Jadi, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk berdiam diri dari kewajiban yang telah dibebankan Allah SWT kepada mereka untuk mendirikan sistem dan syariat Islam, apalagi ketika tidak ada lagi Daulah Khilarfah Islamiyyah yang menegakkan Undang-undang Allah SWT untuk memelihara jiwa, harta, kehormatan dan keamanan kaum muslimin dengan hukum Islam.
Ya Allah, kami telah sampaikan!
(Gaul Islam)
